21 Gerhana kota Bandung.
Hujan deras, rintihan air hujan turun dari atas langit
menyentuh alam yang membuat kaca mobil bus ini tertutup dengan embun.hingga aku
tak bisa melihat pemandangan menuju kota bandung. Namaku Natasya Anggella,Jakarta pada tanggal 14 febuari, aku bukan asli orang Indonesia karna ibu ku yang asli orang Italia yang
menikah dengan ayahku yang asli orang Betawi. Entah bagaimana mereka bisa
bertemu, aku tidak memikirkan itu karna mungkin itulah yang namanya “JODOH”.
Di samping ku ada seorang wanita yang sudah paruh baya membawa
anaknya yang masih kecil, anaknya sangat manis ingin rasanya menyentuh pipinya,tapi
itu sangat tak sopan. tak lama perutku yang kecil ini terasa lapar hingga aku
mengeluarkan ransel yang berada di bawah
kaki dan langsung mengeluarkan beberapa makanan ringan yang berada di ransel. Saat ingin membuka salah satu cemilanku itu seorang
anak kecil yang tepat berada di
sebelahku, menatapku tanpa henti. Tapi , bukan aku yang ia tatap, Melainkan
makanan ringan yang ku pegang.“Kamu Mau?” ucapku sambil menyodorkan makanan
ringan yang ku pegang kepada anak kecil itu. Tanpa banyak bicara anak itu
langsung merebutnya tanpa ada suara sama sekali. “Siapa Namanya?”tanyaku
kembali kepada anak itu. Tanpa banyak
bicara anak itu langsung menunjukan Bahasa Isyaratnya yang mungkin menunjukan
jawabannya atas pertanyaanku sebelumnya. “Namanya Diana. Maaf ya na, anak saya
ini tuna rungu”ucap sang ibu yang terbangun karna mendengar suara anaknya itu.
“Oh, maaf sebelumnya saya membuat ibu terbangun”ucap ku yang menunduk malu. Ibu
itu hanya melontarkan senyuman kepadaku. Aku kembali menghadap ke luar bus, dan
kini aku sadar bahwa aku telah sampai di kota bandung. Bus yang aku kendarai
telah berhenti hingga semua penumpang yang berada di dalamnya turun dan begitu
juga dengan aku.
Saat kakiku akan melangkah keluar dari pintu bus rasanya
ragu, karna mulai sekarang aku akan tinggal di kota kembang ini, kota yang
dahulu di kenal dengan nama kota lautan api, dan sekarang menjadi kota yang
sangat cantik. Tapi aku pun takut bahwa nanti aku gak biasa karna bandung dan
jakarta sangat lah berbeda apalagi suhu nya sangat berbeda. “Permisi Pak. Kalau
ke Kota itu naik angkutan yang mana? ”ucapku,
kepada salah satu tukang ojek itu. “Naik saya aja neng biar nanti saya yang
antarkan”jawab tukang ojek itu dengan logak sundanya. Tanpa banyak berfikir aku
segera naik ke atas motor dan melanjutkan perjalanan kembali hanya alamat bandung saja yang aku tau. Tanpa
banyak kata, surat yang ku bawa sebagai petunjuk, hanya menunjukan alamat
bandung saja , tapi dimana? Kemana aku harus mencarinya? kota bandung ini luas dan
mungkin sangat sulit untuk mencarinya. Saat
melewati sebuah kostan aku meminta ojek itu untk berhenti sebentar, aku mencoba
untuk mencari kostan untuk sementara waktu . “Permisi..”teriakku selagi
memencat bel yang berada di tembok luar.Tak lama menunggu akhirnya seseorang
keluar dari rumah yang di jadikan tempat kostan itu. “Silahkan masuk. Tunggu
sebentar ya neng”ujar salah seorang yang
bekerja di dalamnya. Karna sudah ada orangnya, aku memberikan uang untuk upah
ojek itu karna telah mengantarku ke tempat ini, dan aku bergegas untuk segera
menemui pemilik kostan ini. siapa tau harganya murah karna kosan ini tak begitu
besar dan bagus.
Tak perlu menunggu lama lagi, ibu pemilik kostan itu pun
keluar, tanpa aku sadari ternyata pemiliknya adalah ibu dari anak yang tadi ku
temui dan duduk bersebelahan dengan ku selama di dalam bus.“Eh.. Ada apa ya neng?”ucap seorang wanita yang
ternyata ibu dari anak yang ku temui, di dalam bus. “Saya liat di situ ada
kamar kosong ya?”ucapku yang langsung mengarah ke sebuah kursi.
“Iya ada neng, Eneng mau nge-kost di sini”ucapnya sambil malu malu.”iya
bu,saya mau,saya juga gak akan lama di sini tapi saya mau bayar untuk 1 tahun”Benar
saja dugaan ku kosan ini tak begitu malah dan juga tak begitu murah. Ibu itu
mengantarku ke lantai dua dan tertulis di depan pintu angka 21, ternyata ini
lah kamarku kamar paling ujung, yang ternyata nomor 21, setelah mendapatkan
kuncinya aku segera masuk dan meletakkan ransel dan koperku , dan aku segera
membantingkan badanku ke atas kasur yang berwarna putih itu.
Kamar ini gak begitu besar tapi, lumayan lah. Karna aku pun
hanya sementara waktu tinggal di sini, setelah agak lama aku melentangkan
tubuhku di atas kasur itu, aku segera mengambil ranselku dan mencari surat itu,
siapa tau ada petunjuk lain. Saat surat itu ku temukan benar saja, ada sebuah
kertas yang terselip di dalam ranselku saat ku buka surat itu, isinya adalah
petunjuk lain, tertulis di surat itu “Randy
’17 = cupcake + 21 ” di situ pun
terdapat sebuah foto. Kini perjalananku ke kota bandung ini tidak sia-sia, tapi
aku gak tau tempat di mana saja yang menyediakan cupcake? Dan apa maksudnya.
Karna perjalanan tadi sangat melelahkan dan aku pun merasa
sangat pusingan, karena memikirkan tentang tugas dari keluargaku itu, tanpa sadar telah tertidur lama aku sampai lupa
bahwa jam telah menunjukan angka 06.30 dan saat ku membuka tirai hordeng yang
berada di kamar ternyata langit sudah sudah gelap.“astaga.. gue blm shalat
magrib”ucapku kaget yang langsung loncat ke arah pintu. Perjalanan tadi sangat
panjang hingga aku merasa bahwa tubuhku sangat sakit dan pegal-pegal aku segera
mandi. Tapi, aku lupa bahwa aku gak tau di mana letak kamar mandi. “Permisi bu,
Saya mau nanya kalau kamar mandi di sebelah mana?”dengan handuk yang terlilit
di bahuku. Setelah di jelaskan letak
kamar mandi, aku segera bergegas ke kamarku untuk mengambil shampoo dan sabun
mandinya.
Aku segera keluar dari kostan itu dan mencari warung
terdekat, karna aku tak tau letak warung aku hanya jalan megikuti jalan raya
itu dan yang ku lihat di sebrang jalan hanya ada sebuah mall besar, tanpa
banyak berfikir,aku langsung masuk ke dalamnya dan mencari giant, saat
memasukinya aku melihat sebuah caffe yang menyediakan cupceke sayangnya aku gak
bawa uang banyak, jadi aku hanya melewatkannya dan berjalan menuju giant. Aku segera memakai pakaian rapih dan membawa
uang 200 rb, aku berjlan cepat keluar dari kamar kostan ini. Perjalananku
terhenti oleh diana, gadis tunarung yang ku temui di bus yang kenyataannya
adalah anak dari pemilik kostan ini.“Iya, ada apa?”tanyaku malas. ~menunjukan
bahasa isyaratnya~. “Sorry.. Gue gak ngerti. Maaf saya sedang buru buru “pergi
meninggalkan diana dan tempat kostan itu. Aku segera bergegas pergi
meninggalkan diana, karna aku pun tak mengerti bahasa yang iya gunakan.
Aku berlari dan terus berlari walau waktu sudah menunjukan
pukul 08.00 karna aku gak tau mall ini buka hingga pukul berapa?. Sesampainya
aku di caffe itu aku yang hanya membawa sebuah foto kecil di tanganku itu mulai
melangkah memasuki caffe itu, dalam
hatiku selalu berdoa agar aku segera menemukannya dan segera pulang ke jakarta.
“Permisi mbak di sini ada berapa meja?”.tanyaku
kepada salah satu pelayan yang bekerja
di sana. “Ada banyak mbak, Memangnya ada
apa ya mbak? Apa mbak ingin merayakan acara di caffe kami?”jawab salah seorang
pelayan yang nampak kebingungan atas pertanyaanku. “30, ada?”tanya ku memaksa.
“Maaf mbak, kita tidak punya meja sebanyak itu mungkin hanya 5-7 saja karna
caffe ini pun tak begitu besar”dengan raut wajah yang mulai cemas dan makin
bingung. “21?”tanyaku yang makin menekan.“Coba ya sebentar saya lihat dulu”
yang lalu pergi dan bertanya kepada pegawai lainnya. “Iya”jawabku singkat.
“Oh.. Maaf mba ternyata kami hanya punya 5 meja dan 20 bangku ,memangnya kenapa
mbak?”tanya pelayan itu yang makin bingung. “oh.. gitu, trimakasih ya mbak atas
waktunya”yang langsung pergi meninggalkan caffe itu dengan tangan hampa.
Ternyata kali ini aku
kurang beruntung mungkin besok aku akan lebih beruntung, aku segera kembali ke
kostan agar ibu kost itu tidak mencari-cari tetepi perjalanan ku terhenti saat
melewati sebuah toko buku, saat aku memasuki toko buku itu aku mencari buku
pelajaran bahasa isyarat dan saat aku menemukan bahasa isyarat dasar tanpa
banyak berfikir aku menyodok saku celanaku dan mengambil uang yang tadi ku bawa
dan segera membelinya agar aku bisa
mempelajarinya sedikit demi sedikit. Satu persatu kunaiki anak tangga yang berada
di kostan itu,walau saat aku melewati ruang makan semua orang sedang
bersiap-siap untuk makan malam bersama. “Tasya ayo gabung , Ayo seadanya saja
nih”paksa ibu kos itu. “Iya bu”jawabku yang langsung menghampiri mereka. “Wah,
Kamu anak baru ya?”tanya salah satu orang yang ngekost di situ juga. “Iya, saya
baru masuk tadi sore”jawabku yang sangat cuek. “Saya Rahma, Saya sudah 2 tahun
di sini saya kuliah di UPI bandung jurusan tari”ucap salah satu orang yang
ngekost di kostan ini dengan menjulurkan tangannya. “Saya Natassya Anggella,
saya dari jakarta”membalas salam sambil menjulurkan tangan. “Yasudah biar ibu
perkenalkan ya,Ini Arum,Deby, Rahmah, Atu, Ajeng, Veni, Indah, Putri, Bunga,
dan Ayu”.“Oh hay semuanya”ucapku dengan senyum ketus. “yasudah makan yuk”tawar
ibu kos itu.
Saat makan aku hanya terfikir mungkin mereka semua bisa
membantuku untuk mencari Randy agar aku bisa cepat-cepat kembali ke jakarta. Karna
badanku telah sangat lelah aku segera menjatuhkan tubuhku ke atas kasur dan aku segera tidur di atasnya. Saat tubuh
itu masih terasa sakit dan aku pun masih sangat ngantuk dari luar terdengar
suara ketukan pintu.“Ok, Bentar! Pagi pagi ko udah ganggu siapa sih!.”ucapku
keluh kesal. Saat membuka pintu seseorang
telah berdiri di depan pintu.“Natasya, pagi ini mau ke mana?”tanya seorang wanita kepadaku. “I don’t
know, why?” jawabku sangat malas hingga menatapnnya tajam. “Kamu kan baru ya di
bandung jalan-jalan yuk kita keliling kota bandung yuk”ucapnya mencoba
menenangkanku. Aku terdiam sebentar, aku pikir dia bisa membantuku dalam
masalah ini. “Ok, aku mandi dulu kamu tunggu di sini”yang langsung pergi membalikkan
badan. Lagi lagi aku berfikir, Mungkin aku bisa manfaatkan dia untuk mencari
randy di kota kembang ini,dan agar aku pun mempunyai teman selama tinggal di
bandung.
Setelah agak lama menunggu, aku segera keluar dari kamar
serta mengunci nya, dan segera menghampiri
Ayu yang sudah dari tadi menunggu ku.“ Kita mau kemana?”tanyaku bingung.“Kemana
ya?..Gak tau bingung loh maunya kemana?”ajaknya bercanda. “Yu, loh tau gak
tempat di mana aja yang menyediakan cupcake?” menghentikan jalan dan
menatapnya. “Ya taulah. Kebetulan banget gue kerja di caffe cupcake”dengan
senyuman yang dilontarkannya.“yang bener yu?lu kerja di caffe cupcake?”takpercaya,dan
mulai tersenyum senyum sendiri. “loh kenapa? Loh mau nyobain cupcakenya?”menyenggolku.“Iya
makasih,gimana kalau sekarang kita ke sana”paksa ku.“ok”jawabnya singkat. Sesampainya
aku di depan caffe cupcake itu, dalam hati ku selalu berdoa agar aku bisa
segera bertemu randy. “Gue ke belakang dulu ya”meninggalkan Ayu dan berjalan
menuju kamar mandi yang di sediakan di caffe ini.
Saat sedang berjalan dalam fikir ku hanya terbayang-bayang
gimana dia sekarang ini?, karna aku dari tadi hanya melamun sambil berjalan tak
sengaja aku menabrak seorang wanita yang sedang berjalan dengan pacarnya dan
membawa beberapa cupcake di tangannya,
cupcake yang wanita itu pegang terjatuh ke lantai dan minuman yang sedang pacarnya
pegang pun tertumpah ke baju SMA yang mereka gunakan dan sedikit mengenai kaos biru yang sedang aku gunakan.“Sorry”ucapku
yang sangat merasa bersalah. “Ih.. loh tuh gak liat-liat ya, Makanya kalau
jalan tuh jangan ngelamun, kan jadi kotor”ucap wanita itu dangan raut wajah
yang kesal. “Iya sorry gue gak sengaja yaudah gue ganti rugi deh cupcakenya,
berapa?”membuka dompet. “Yaudah lah gak apa-apa gak usah”sambung laki-laki yang
sepertinya pacarnya itu dengan nada pelan. “Gak, Gak apa-apa ko biar saya ganti
rugi semuanya, Mana bon yang tadi habis kalian membeli cupcake itu?”memintanya.
“Ini..”ucap wanita itu yang memberikan bon nya kepadaku dengan nada pelan. “Kalian
mau di ganti sama uang atau cupcake lagi?”ujarku. Mereka tak menjawab
pertanyaan ku itu,mungkin mereka juga gak enak. “Ok gini saja ini uang buat
kalian”memberikan uang 200 rb.“Gak usah mba, Saya gak minta anda untuk
mengganti ko tadi saya hanya sepontyan kaget aja jadi emosi.”ucap wanita itu dengan senyuman. “Gak
gak apa-apa kalian terima aja ya saya jadi gak enak kalau kalian menolak”melontarkan
senyuman. “tap...”terpotng karna aku langsung memberi uang itu depada
tanganannya dan mengepelkannya. Aku memberi senyuman kepada mereka dan segera
meninggalkannya. Mata ku tidak dapat fokus sering kali aku menengok ke kanan
dan ke kiri barangkali randy ada di sini, tapi apa iya?
Tak lama ayu datang membawa beberapa cup cake dan segera
menghampiriku. “Loh gak kerja?”tanyaku kepada ayu dengan nada membingungkan. “Gak,
hari ini gak ada jadwal jadi gue mau
antrin loh ke mana aja ok”. Saat memdengar kalimat ayu tadi aku jadi lebih bersemangat
untuk mencari randy, dan agar dia bisa membantu mungkin lbh baik aku critakan
smuanya.“yu, kamu bsa bantu aku gak?”mengepal tangannya. “bantu apa? Ya selagi
aku sanggup knpa enggk”membalas senyuman.
Setelah selesai menceritakan itu semua, kini hanya ayu yang mengetahui
niat pertamaku yang nekad untuk pergi dan tinggal di bandung.“begitu.. insya
allah tasya, aku bakalan bantu kamu sebisa aku kamu yang sabar ya”mengusap-usap
bahuku. “iya” jawabku yang langsung memakan cupcake.
Di meja no 12 itu terdapat seorang lelaki yang menyerupai
wanita kalau di kira seumuran dengan randy saat ini. Yang sedang memakan sebuah
cup cake dengan secangkir coffe. Tapi itu bukan randy, randy gak mungkin
menggunakan pakaian wanita,hells, dan tas berwarna merah jambu. Karna bingung
Ayu segera membalikan badannya dan menengok kearah mataku menatap.“Oh liatin
cowo itu?” tanyanya sambil memainkan lilin yang terdapat di meja. “Kenapa?apa
dia langganan di sini?”. Hanya mengangkat bahu saja jawaban Ayu.
Aku segera membantingkan badanku di atas kasur, karna lelah aku
langsung tertidur lelap hingga lupa membuka sepatu. Dan kini sepatu itu telah
mengotori kasur yang berwarna putih ini. Alarm sudah berbunyi terus menerus
tapi rasa ngantuk dan malas yang masih terasa membuatku malas beraktifitas, dan
aku hanya membolak balikan badanku saja. Kini jam telah menunjukan pukul 8.30. Aku yang
baru terbangun segera siap-siap untuk mencari toko cup cake lainnya. Aku
berjalan ke arah tangga dengan sangat cepat(setengah lari) tiba-tiba seseorang dari arah belakang
memanggil namaku. Saat membalikan badan ternyata Bunga yang memanggilku.“Ada
apa?” tanyaku yang nampak malas dengan nada kasar. “Enggak ko gue cuman mau
bilang resleting tas loh kebuka!”ucapnya
sambil melewatiku. “thanks” balasku cuek.
Tanpa banyak basa basi lagi,aku segera menuruni anak tangga
satu persatu. Kini gak ada orang yang menemaniku, tapi aku gak menyerah. Aku meminta supir taxi
itu mengantarkanku ke beberapa toko kue di kota bandung.ketika seharian
sudah lelah mencari aku melewati sebuah toko buku yang di dalamnya terdapat
cafe. Aku mencari buku dan memesan sebuah makanan di sana. Ternyata cafe di
dalamnya juga menyediakan cup cake.“Mba, di sini ada gak yang suka mesen cup
cake?”tanyaku kepelayan yang sedang menunggu catetan pesenanku.“iya ada banyak
mbak. Kenapa? Mbak mau pesen cup cke juga?”tanya pelayan yang sudah mulai
mengeluarkan buku pesanan dan pulpen.“enggak, aku pesan coffe aja satu.”
Sambil menunggu aku mengambil sebuah majalah dewasa yang
sampul majalah itu adalah seorang waria yang wajahnya sangat mirip dengan orang
yang sedang makan cup cake di cafenya Ayu, hanya saja namanya di situ
terterang Raline dan keterangan di situ,
bahwa dia seorang transgender yang juga model, model sexy lebih pantasnya.Tapi
aku tidak begitu peduli dengan orang yang berda di majalah itu.Tak lama pelayan
datang dengan membawa secangkir coffe panas dan menaruhnya di mejaku. “Mba, Kenal
model ini?”tanyaku sambil menunjukan waria yang ada di majalah itu.“loh Raline
yah, dia itu loh mba model transgender, kasian lo mba dia gak punya keluarga
dan katanya usianya juga masih sangat muda, ya tapi kurang lebihnya sih saya
mah gak tau ya mba”pergi meninggalkanku. Jadi dia tuh model pantas saja
Sambil tiduran di atas kasur aku membuka leptop ku dan searching
tentang waria Raline model bandung itu. Dan ternyata bukan. Kini aku sudah sedikit
lega karna ternyata Randy itu bukan raline, dan gak mungkin randy seperti itu.
Mungkin dia sekarang menjadi idola para remaja di sekolahnya. Dan sangat tidak
mungkin kalau dia seperti Raline itu. tapi kini aku menjadi tambah kesulitan
untuk mencari randy.
Hari ini ku putuskan untuk tidak pergi kemana mana karna
cuaca yang dari tadi malam hujan deras tak henti hentinya. Dengan menikmati teh
hangat di pagi hari yang sedang hujan ini. Aku melihat beberapa penghuni kostan ini yang sedang sibuk karna harus pergi
berkuliah.
Kini hujan telah reda dan matahari pun sudah berada tepat di
atas kepala, tapi itu semua tak membuatku menyerah untuk tetap berkeliling kota
bandung lagi.
Kini lagi lagi aku pulang dengan tangan hampa dan tak
membawa info apapun. Malam hari ini aku melihat salah satu anak kost ini keluar
dengan seorang lelaki, mau kemana sudah malam gini? Pakaian yang ia gunakan
juga sangat tidak biasa. Tanpa ia ketahui aku mengikutinya menggunakan ojeg.
Ternyata ia mengarah ke salah satu club malam. Aku gak pernah menyangka bahwa
di kota bandung yang terkenal cantik ini masyarakatnya ada yang seperti ini.
Seperrti kehidupan di Jakarta. Dengan piama yang masih ku gunakan ini aku mencoba
mendekati club malam itu. Tapi tidak, aku tidak akan membuang buang waktuku
untuk mendekati tempat terlarang itu. Untung saja ojeg yang tadi ku naiki belum
sempat pergi, jadi aku bisa kembali pulang menaikinya lagi. “Darimana aja malam
malam begini?”tanya salah satu penghuni kostan ini dengan nada tinggi. Tanpaku
pedulikan aku langsung meninggalkannya. “He! Gue ngomong sama lo anak
baru!”ucapnya dengan nada menyolot. Mendengar ucapannya tadi aku langsung
membalikan badan dan menghampirinya. “Dari warung” balas ku dengan menatapnya
tajam,dan langsung meninggalkannya.
Pagi ini aku habiskan hanya berada di dalam kamar, karna
kurasa tubuhku yang tidak seprti biasa. Bahkan untuk bangkit dari kasurpun
rasanya sangat sulit. Tapi aku beruntung karna di setiap kamar di tempat kostan
ini, di beri masing-masing satu telepon jadi aku bisa menghubungi ibu pemilik
kost langsung, untuk ku minta bantuan. Kini aku berada disebuah rumah sakit,
karna ibu pemilik kostan itu membawaku ke rumah sakit terdekat setelah panik
melihatku dalam keadaan lemah. Obat dari rumah sakit itu banyak sekali,dan
sangat mahal. Hingga aku hampir kehabisan pegangan, ini gak bisa di biarkan
bagai mana aku bisa menemukan Randy kalau aku tidak punya pegangan lagi.
Hari ini seluruh tubuhku sudah membaik kurasa aku bisa
kembali mencari Randy dan juga sebuah pekerjaan ringan. Saat aku melewati
sebuah Masjid dengan sebuah menara di dalamnya, aku merasa sangat penasaran dan
mencoba memasukinya. Dari atas sini aku bisa melihat seluruh kota bandung, dan
aku pun melihat dari jarak yang sangat jauh sebuah gunung yang di kenal sebagai
Tangkuban Parahu. Hingga sempat terfikirkan bahwa kota bandung ini sangat luas,
bagaimana?dan gimana?aku bisa menemukan Randy itu bagaikan mencari jarum di
tumpukan jerami. Setelah shalat dzuhur di masjid ini aku kembali melanjutkan
pencarianku. Sepanjang perjalanan aku menyusurin alun alun kota bandung entah kenapa
pikiranku sangat kosong. Kini aku berhenti sebentar untuk menyicipi kulier khas
bandung itu. Saat sedang asik menyantap beberapa makanan dan minuman seseorang
dengan penampilan punk menarik tas yang berada di lenganku. “Jambret..
Jambret..”teriakku yang membuat semua orang membantuku mengejar jambret itu.
Sayangnya jambret itu sangat cepat hingga aku dan para pedagang kaki lima itu
tidak bisa mengejarnya, tapi bagaimana seluruh uangku,ATMku, Handphone, tablet
dan tanda pengenalku ada didalamnya serta foto dan petunjuk yang mengenai Randy
pun berada di dalamnya.”Sialan!”ucapku menangis sambil menendang sebuah kaleng
di pinggiran alun-alun kota bandung.
Kini perjalananku hanya sia-sia. Dan bahkan untuk kembali ke
kostan saja aku tidak punya uang untuk ongkosnya.beberapa kali aku teriak
kecewa dan kesal selagi berjalan kaki menuju kostan itu. Saat aku menyebrangi
sebuah jalan raya hampir saja aku tertabrak. Aku yang saat ini sedang kesal
tidak dapat melihat jalan dengan baik. Aku menangis dan terus menangis di bawah
pohon besar di sebuah taman. Entah jalan manakah yang aku lalui aku tidak tau,
bahkan aku pun tidak tau di mana tempatku sekarang. Langit yang semakin gelap,
serta serangga yang berada di pipiku membuat ku terbangun dari tidurku.
Ternyata aku tertidur dibawah pohon itu karna lelah berjalan dan menangis.
Kuputuskan untuk kembali ke Masjid itu untuk berniat menginap semalam selagi
aku belum mendapat pekerjaan.
Kini langit sudah
mengitam dan jam yang berada di tanganku sudah menunjukan pukul 09.05(sembilan
lewat lima menit). Setelah selesai shalat isa aku mencoba tidur di salah satu
teras di masjid itu hingga seorang wanita bewajah arab dengan pakaian serba
hitam dan cadarnya menghampiriku dan membuatku terbangun.”kenapa tidur di sini?namaku
Aisyah, aku melihatmu dari tadi sore tapi sekarang sudah larut malam kenapa
masih di sini?tidak pulang?”ucap wanita itu dengan lembut kepadaku. Setelah
menceritakan semua kejadian tadi siang kepadanya, ia menyuruhku untuk ikut
bersamanya berniat mengajakku kerumahnya agar aku tidak tidur di teras masjid
dan kebetulan sekali rumahnya tak begitu jauh dari masjid dan alun alun ini
jadi aku tak perlu repot naik kendaraan. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa
rumahnya sangat besar. Bahkan rumahku yang di itali pun kalah besarnya. Sangat
beruntung aku bisa menginap di sini.
Saat Aisyah menyuruhku masuk aku sangat tidak PD, karna
hanya aku yang tidak berkerudung. Semua keluarganya sama sepertinya menggunakan
jubah hitam yang di lengkapi cadar. Sempat ada keribut di keluarga ini untuk
menerimaku atau tidak. Penghalangnya adalah karna aku tidak menggunakan
kerudung. Tapi Aisyah sangat baik dia memberiku kerudung berwarna hitam dan
mengganti pakaianku yang tidak pantas ini dengan pakaian panjang yang lebih
pantas. Kini keluarga itu mengizinkanku untuk menginap di rumah yang megah dan
mewah ini.
Senja ini aku terbangun padahal jam yang berada di kamar itu
menunjukan pul 03.45 aku terbangung ketika mendengar alunan alunan ayat suci
Al-Quran yang selalu mereka baca setiap harinya. Aku melangka menuju luar dan
berniat mencari sumber suara itu, ternyata dari belakang rumah di sebuah
pendopo yang tidak begitu besar.”kamu sudah bangun tasya?”tanya ibu Aisyah yang
melihatku berdiri di pinggiran tembok.Aisyah segera menghampiriku dengan
membawa sebuah Al-Quran.”Kamu mau baca? Biar kita ngaji bareng bareng”ajak
Aisyah yang langsung memberikan Al-Quran itu kepadaku. “Tapi Aisyah, aku gak
begitu bisa baca Al-Quran. Sudah lama sekali aku tidak membacanya”ucapku yang
menunduk malu. “Enggak Apa. Kita mau ko ajari kau membaca Al-Quran”sela salah
satu keluarga Aisyah. Aku sangat bangga bisa ketemu Aisyah,sehingga aku bisa
memperbaiki Agama ku. Dan ku harap Randy pun tidak melupakan Agamanya.
Pagi ini kuputuskan untuk pamit karena harus tetap mencari
Randy walaupun barang barang berhargaku hilang kemarin. Derasnya air hujan
membuatku harus berteduh di sebuah warung kopi (warkop) di pinggiran jalan.
“Sulit sekali mencarimu dek”ujarku frustasi. Walaupun hujan masih membasahi
tanah ini. Ku mantapkan tekadku untuk terus mencarinya. Walau air hujan telah
membuat seluruh tubuhku basah kuyup, gak ada sedikitpun rasa untuk menyerah.
Setelah lama berkeliling mencari Randy ku akhiri dengan bertanya ke salah
seorang tukang bakso di kaki lima. Saat aku hendak meninggalkan tukang bakso
itu para remaja SMA yang berdatangan sedang membicarakan salah seorang remaja
yang mungkin temannya di sekolah. “Luh tau gak? Temennya si Hendra gue mah
kasian sama dia.”ucapnya sambil memukul bahu temannya. “Emang kenapa bro?”balasnya
selagi memakan bakso. “kasian semenjak orangtuanya cerai dia pindah keBandung,
tapi lo tau?dia malah kesesat.”ungkapnya selagi memakan bakso. Aku sangat
penasaran dengan ceritanya, aku kembali mendekatinya dan duduk di sebuah
bangku. “kesesat gimana?” tanya temennya yang langsung menghentikan makannya
lalu menatap temannya. “katanya sih dia bandel aja, tapi bandel kenapa
kenapanya gue gak tau si Hendra cuman cerita segitu, dia bilang dia omongin
kelanjutannya nanti malah nge-Gibah.”ujar temannya yang tetap asik memakan
bakso. Mereka kembali melahap bakso yang mereka beli, dan aku kembali
melanjutkan perjalananku yang kini menuju kostan.
Untung saja tidak semua uangku dan barang berhargaku ku
simpan di dompet dan tas, setidaknya kini aku masih memiliki simpanan uang. Pagi ini aku tidak pergi untuk mencari
Randy, tapi aku pergi untuk mencari pekerjaan. Ku mulai mencari di dalam sebuah
Mall besar. “DICARI KARYAWAN YANG MAHIR BAHASA INGGRIS” seperti sebuah kesempatan
besar yang sayang jika tidak di ambil. Kupikir dalam ruangan itu hanya aku
seorang yang ingin mengikuti lowonga itu tapi ternyata salah puluhan orang
telah mendaftar terlebih dahulu tapi aku tidak boleh menyerah. Nasib baik
berada di pihak ku saat aku di terima di tempat ini.
Setelah dua bulan aku bekerja di sini, aku berniat untuk
mengunjungi kediaman aisyah, aku ingin berterima kasih kepadanya dan
keluarganya.
Rumah besar itu tampak kosong sesekali ku brteriak dengan
jari yang terus memencet bel rumah itu tapi tak seorangpun keluar dari rumah
besar yang nampak bagai istana. “mencari siapa?” tanya seorang warga. “aisyah
dan keluarganya kemana?”. “oh aisyah setau saya mereka sudah pulang ke arab
sekitar dua minggu yang lalu”. “arab? Tidak meninggalkan pesan sama sekali?”
tanyaku yang sangat cemas. “ada sebuah
surat yang mbak aisyah titipkan kepada pak RT katanya untuk mbak Natasya”.
“benarkah? Saya natasya, bisa antarkan saya untuk menemui pak RT.”. “bisa”. Aku
bergegas cepat mengikuti ibu ibu itu menju rumah pak RT. Setelah bercakap-cakap
dengan pak RT ia memberikan sebuah surat yang di tulis aisyah untuk ku. Tak
langsung aku buka surat yang masih tertutup rapat itu ku biarkan tetap tertutup
hingga aku sampai di kostan.
“Seperti
Bulan yang terlihat sempurna tetapi tidak.
Seperti pasir yang terlihat
bersih tetapi tidak. Hentakan bumi membuat butiran pasir berloncan loncat
hingga tersesat jauh, jauh hingga lupa diri.
Aku
melihat aktor yang pandai menyembunyikan perasaan hati. Seperti mentari yang
selalu tersenyum kepada bumi. Angin membuatku tersesat dalam gelombang laut,
semakin lama aku berenang hanya laut luas lah yang aku temui.
Hati
sungguh buta. Aku tak ingin menjadi bebanmu, aku sadar Bintang lebih kuat dari
bulan walau yang terlihat sebaliknya.
“maksudnya aisya itu apa?
Kenapa dia menulis surat ini surat yang tidak dapat aku mengerti surat yang
membuat ku semakin bingung”ucapku gundah dalam hati.
Minggu
depan aku akan menemui mu, aku tunggu di jalan aceh no 21.sampai ketemu minggu
depan Wassalam.
Aku makin tidak mengerti, hari hari ku lalui seperti 4 bulan
biasanya di kota bandung mencari Randy dan bekerja di sebuah tempat les. Hingga
semakin jauh aku mencari hingga sampai lah aku di jalan aceh tempat dimana
aisyah ingin menemuiku. Aku mencoba mengelilingi jalan itu hingga dapatlah
sebuah pemakaman di yang di temboknya terdapat tulisan “Pemakaman 21”. Aku
semakin bingung apa maksud aisyah. “cepat sekali kamu datang”ucap seorang
wanita dari arah belakangku yang membuat aku segera membalikan badan. “aisyah..
apa maksud kamu ngajak aku ke sini?”ujarku dengan raut wajah yang sangat bingu
saat meliat dia yang menggunakan pakaian jubah hitam dan 1 kardus cupcake yang
tampak sudah berjamur dan lama itu. “(menitihkan air mata) ikut aku” kearah
sebuah makam yang tertulis nama Randy bin Jamil di dalam batu nisannya.
“Randy?!”(menitihkan air mata)yang langsung terduduk memeluk batu nisan itu.
“Aisyah, apa maksud ini? Darimana kamu tau aku,Randy? Jawab aku!” ucapku
membentak. “(menitihkan air mata)maafkan aku.. maafkan aku.” Ucapnya dengan
nada sangat bersalah.
Aku semakin tidak dapat mengerti apa maksud Aisyah ada hubungan
apa dia dengan Randy hingga dia begitu merasa bersalah dan apakan makam ini
benar makam randy, randy yang selama ini aku cari cari. Randy adik ku? Dalam tubuh ini aku hanya dapat bertanya
tanya hingga semua dapat terjawab jika saja air mata aisyah dapat berhenti dan
mulai bercerita.
“cukup Aisyah ceritakan, apa maksud semua ini? Ada hubungan apa
kamu sama Randy? Apakah ini benar makam Randy?”ucapku yang masih sangat tidak
mengerti. “(menghapus air mata) begini ceritanya. Dulu tepat tanggal 14
februari tahun lalu aku yang sedang mengendarai sedan berwarna silver ku sedang
melaju dengan kecepatam kencang. Hingga aku tidak dapat melihat keadaan
lalulintas. Dari arah yang berlawanan seseorang lelaki yang sedang mengendarai
sepeda motor melintas dengan handphone di dalam helmnya. Tanpa aku ketahui
kejadian itu sangat lah singkat ketika aku membuka mata lumuran darah telah
menodai sisi sisi mobilku aku yang sangat manik itu segera kelaur dan ku priksa
keadaan di luar, dan yang aku dapati seorang anak lelaki yang sudah berlumuran darah terlembar dari
motor bebeknya dengan 1 kardus cupcake yang iya pegang dan telfon yang masih
aktif memanggil nama Natasya. Aku berniat bertanggung jawab dan segera membawa
jasad randy ke dalam mobil ku, dan pergi meninggalkan lokasi itu. Saat di rumah
sakit aku membukan isi kardus kue yang sebenarnya di tunjukan untuk kado ulang
tahun kamu. Aku takut.. aku takut kalau aku masuk penjara aku takut. Maafin
aku.” Ucapnya terus membuat ku sebagai mimpi.
“gak, gak gak mungkin ini mimpi, randy masih hidup, lo bukan
pembunuh. Gak gak gak ini Cuman mimpi ya ini mimpi ini MIMPI (berteriak kencang
yang lalu terjatuh lemas). (memelukku). ”Maafkan aku tas, aku gak seperti yang
kamu bayangkan, setelah kejadian itu, aku putuskan untuk ikut ke abi ku dan
mencoba menutup aurat seperti ini, agar tidak ada orang yang dapat
mengenaliku.”. “(mendorong aisyah)pembunuh,pembunuh, jangan sentuh
gue,pembunuh.”pergih meninggalkan aisyah yang menangis karna rasa bersalah.
“natasya, aku
mohon jangan laporkan aku ke polisi.”memeluk kakiku. “lepasin gue, gue gak akan
biarin pembunuh kaya loh berkeliaran.”menarik tangannya untuk di bawa ke kantor
polisi.
Setelah menyerahkan aisyah ke kantor polisi aku, aku segera
menelfon orang tua ku untuk menyusul ku ke Bandung dan membawa pulang jasad Randy.
Adik tercinta yang selama ini di cari cari, hasil dari pencarian ini tak
berakhir dengan indah bahkan aku harus merelakan sahabatku yang mulai kini akan
menjalani hari harinya di dalam sel sel besi.
Semua penghuni kost menatapku dengan aneh kecuali ibu kost dan
ayu.”yang sabar ya lo”ujar ayu selagi mengusap pundakku. Hanya senyuman kecil
dan rintihan air mata yang menyentuh hati yang ku lontarkan. Kini aku tau
maksud dari 21 cupcake, yang aku pikirkan tentang 21 itu ternyata salah besar.
Tapi semua rahasia sedah terbongkar. Cahaya dalam kenangan bandung seakan redup
bagai gerhana di hati ini. Mata yang terbuka pun seakan buta. Hingga aku tidak
dapat menikmati indahnya dunia dengan cahaya.
Aku berdoa kepada yang mahakuasa, yang di saksikan langsung oleh
butiran pasir yang tertiup angin dan ombak yang tertiup menuju daratan.
~ 21 Gerhana Di kota Bandung ~
