Rabu, 26 November 2014

21 gerhana kota Bandung



21 Gerhana kota Bandung.

Hujan deras, rintihan air hujan turun dari atas langit menyentuh alam yang membuat kaca mobil bus ini tertutup dengan embun.hingga aku tak bisa melihat pemandangan menuju kota bandung. Namaku  Natasya  Anggella,Jakarta pada tanggal 14 febuari, aku bukan asli orang Indonesia karna ibu ku yang asli orang Italia yang menikah dengan ayahku yang asli orang Betawi. Entah bagaimana mereka bisa bertemu, aku tidak memikirkan itu karna mungkin itulah yang namanya “JODOH”.
Di samping ku ada seorang wanita yang sudah paruh baya membawa anaknya yang masih kecil, anaknya sangat manis ingin rasanya menyentuh pipinya,tapi itu sangat tak sopan. tak lama perutku yang kecil ini terasa lapar hingga aku mengeluarkan ransel  yang berada di bawah kaki dan langsung mengeluarkan beberapa makanan ringan  yang berada di ransel. Saat  ingin membuka salah satu cemilanku itu seorang anak kecil yang  tepat berada di sebelahku, menatapku tanpa henti. Tapi , bukan aku yang ia tatap, Melainkan makanan ringan yang ku pegang.“Kamu Mau?” ucapku sambil menyodorkan makanan ringan yang ku pegang kepada anak kecil itu. Tanpa banyak bicara anak itu langsung merebutnya tanpa ada suara sama sekali. “Siapa Namanya?”tanyaku kembali  kepada anak itu. Tanpa banyak bicara anak itu langsung menunjukan Bahasa Isyaratnya yang mungkin menunjukan jawabannya atas pertanyaanku sebelumnya. “Namanya Diana. Maaf ya na, anak saya ini tuna rungu”ucap sang ibu yang terbangun karna mendengar suara anaknya itu. “Oh, maaf sebelumnya saya membuat ibu terbangun”ucap ku yang menunduk malu. Ibu itu hanya melontarkan senyuman kepadaku. Aku kembali menghadap ke luar bus, dan kini aku sadar bahwa aku telah sampai di kota bandung. Bus yang aku kendarai telah berhenti hingga semua penumpang yang berada di dalamnya turun dan begitu juga dengan aku.
Saat kakiku akan melangkah keluar dari pintu bus rasanya ragu, karna mulai sekarang aku akan tinggal di kota kembang ini, kota yang dahulu di kenal dengan nama kota lautan api, dan sekarang menjadi kota yang sangat cantik. Tapi aku pun takut bahwa nanti aku gak biasa karna bandung dan jakarta sangat lah berbeda apalagi suhu nya sangat berbeda. “Permisi Pak. Kalau ke Kota itu  naik angkutan yang mana? ”ucapku, kepada salah satu tukang ojek itu. “Naik saya aja neng biar nanti saya yang antarkan”jawab tukang ojek itu dengan logak sundanya. Tanpa banyak berfikir aku segera naik ke atas motor dan melanjutkan perjalanan kembali  hanya alamat bandung saja yang aku tau. Tanpa banyak kata, surat yang ku bawa sebagai petunjuk, hanya menunjukan alamat bandung saja , tapi dimana? Kemana aku harus mencarinya? kota bandung ini luas dan mungkin sangat sulit untuk mencarinya.  Saat melewati sebuah kostan aku meminta ojek itu untk berhenti sebentar, aku mencoba untuk mencari kostan untuk sementara waktu . “Permisi..”teriakku selagi memencat bel yang berada di tembok luar.Tak lama menunggu akhirnya seseorang keluar dari rumah yang di jadikan tempat kostan itu. “Silahkan masuk. Tunggu sebentar ya neng”ujar salah seorang  yang bekerja di dalamnya. Karna sudah ada orangnya, aku memberikan uang untuk upah ojek itu karna telah mengantarku ke tempat ini, dan aku bergegas untuk segera menemui pemilik kostan ini. siapa tau harganya murah karna kosan ini tak begitu besar dan bagus.
Tak perlu menunggu lama lagi, ibu pemilik kostan itu pun keluar, tanpa aku sadari ternyata pemiliknya adalah ibu dari anak yang tadi ku temui dan duduk bersebelahan dengan ku selama di dalam bus.“Eh..  Ada apa ya neng?”ucap seorang wanita yang ternyata ibu dari anak yang ku temui, di dalam bus. “Saya liat di situ ada kamar kosong ya?”ucapku yang langsung mengarah ke  sebuah kursi.  “Iya ada neng, Eneng mau nge-kost di sini”ucapnya sambil malu malu.”iya bu,saya mau,saya juga gak akan lama di sini tapi saya mau bayar untuk 1 tahun”Benar saja dugaan ku kosan ini tak begitu malah dan juga tak begitu murah. Ibu itu mengantarku ke lantai dua dan tertulis di depan pintu angka 21, ternyata ini lah kamarku kamar paling ujung, yang ternyata nomor 21, setelah mendapatkan kuncinya aku segera masuk dan meletakkan ransel dan koperku , dan aku segera membantingkan badanku ke atas kasur yang berwarna putih itu.
Kamar ini gak begitu besar tapi, lumayan lah. Karna aku pun hanya sementara waktu tinggal di sini, setelah agak lama aku melentangkan tubuhku di atas kasur itu, aku segera mengambil ranselku dan mencari surat itu, siapa tau ada petunjuk lain. Saat surat itu ku temukan benar saja, ada sebuah kertas yang terselip di dalam ranselku saat ku buka surat itu, isinya adalah petunjuk lain,  tertulis di surat itu “Randy ’17 = cupcake +  21 ” di situ pun terdapat sebuah foto. Kini perjalananku ke kota bandung ini tidak sia-sia, tapi aku gak tau tempat di mana saja yang menyediakan cupcake? Dan apa maksudnya.
Karna perjalanan tadi sangat melelahkan dan aku pun merasa sangat pusingan, karena memikirkan tentang tugas dari keluargaku itu, tanpa  sadar telah tertidur lama aku sampai lupa bahwa jam telah menunjukan angka 06.30 dan saat ku membuka tirai hordeng yang berada di kamar ternyata langit sudah sudah gelap.“astaga.. gue blm shalat magrib”ucapku kaget yang langsung loncat ke arah pintu. Perjalanan tadi sangat panjang hingga aku merasa bahwa tubuhku sangat sakit dan pegal-pegal aku segera mandi. Tapi, aku lupa bahwa aku gak tau di mana letak kamar mandi. “Permisi bu, Saya mau nanya kalau kamar mandi di sebelah mana?”dengan handuk yang terlilit di bahuku.  Setelah di jelaskan letak kamar mandi, aku segera bergegas ke kamarku untuk mengambil shampoo dan sabun mandinya.
Aku segera keluar dari kostan itu dan mencari warung terdekat, karna aku tak tau letak warung aku hanya jalan megikuti jalan raya itu dan yang ku lihat di sebrang jalan hanya ada sebuah mall besar, tanpa banyak berfikir,aku langsung masuk ke dalamnya dan mencari giant, saat memasukinya aku melihat sebuah caffe yang menyediakan cupceke sayangnya aku gak bawa uang banyak, jadi aku hanya melewatkannya dan berjalan menuju giant.  Aku segera memakai pakaian rapih dan membawa uang 200 rb, aku berjlan cepat keluar dari kamar kostan ini. Perjalananku terhenti oleh diana, gadis tunarung yang ku temui di bus yang kenyataannya adalah anak dari pemilik kostan ini.“Iya, ada apa?”tanyaku malas. ~menunjukan bahasa isyaratnya~. “Sorry.. Gue gak ngerti. Maaf saya sedang buru buru “pergi meninggalkan diana dan tempat kostan itu. Aku segera bergegas pergi meninggalkan diana, karna aku pun tak mengerti bahasa yang iya gunakan.
Aku berlari dan terus berlari walau waktu sudah menunjukan pukul 08.00 karna aku gak tau mall ini buka hingga pukul berapa?. Sesampainya aku di caffe itu aku yang hanya membawa sebuah foto kecil di tanganku itu mulai melangkah memasuki  caffe itu, dalam hatiku selalu berdoa agar aku segera menemukannya dan segera pulang ke jakarta. “Permisi mbak di sini  ada berapa meja?”.tanyaku kepada salah satu  pelayan yang bekerja di sana. “Ada banyak  mbak, Memangnya ada apa ya mbak? Apa mbak ingin merayakan acara di caffe kami?”jawab salah seorang pelayan yang nampak kebingungan atas pertanyaanku. “30, ada?”tanya ku memaksa. “Maaf mbak, kita tidak punya meja sebanyak itu mungkin hanya 5-7 saja karna caffe ini pun tak begitu besar”dengan raut wajah yang mulai cemas dan makin bingung. “21?”tanyaku yang makin menekan.“Coba ya sebentar saya lihat dulu” yang lalu pergi dan bertanya kepada pegawai lainnya. “Iya”jawabku singkat. “Oh.. Maaf mba ternyata kami hanya punya 5 meja dan 20 bangku ,memangnya kenapa mbak?”tanya pelayan itu yang makin bingung. “oh.. gitu, trimakasih ya mbak atas waktunya”yang langsung pergi meninggalkan caffe itu dengan tangan hampa.
Ternyata  kali ini aku kurang beruntung mungkin besok aku akan lebih beruntung, aku segera kembali ke kostan agar ibu kost itu tidak mencari-cari tetepi perjalanan ku terhenti saat melewati sebuah toko buku, saat aku memasuki toko buku itu aku mencari buku pelajaran bahasa isyarat dan saat aku menemukan bahasa isyarat dasar tanpa banyak berfikir aku menyodok saku celanaku dan mengambil uang yang tadi ku bawa dan segera membelinya agar  aku bisa mempelajarinya sedikit demi sedikit. Satu persatu kunaiki anak tangga yang berada di kostan itu,walau saat aku melewati ruang makan semua orang sedang bersiap-siap untuk makan malam bersama. “Tasya ayo gabung , Ayo seadanya saja nih”paksa ibu kos itu. “Iya bu”jawabku yang langsung menghampiri mereka. “Wah, Kamu anak baru ya?”tanya salah satu orang yang ngekost di situ juga. “Iya, saya baru masuk tadi sore”jawabku yang sangat cuek. “Saya Rahma, Saya sudah 2 tahun di sini saya kuliah di UPI bandung jurusan tari”ucap salah satu orang yang ngekost di kostan ini dengan menjulurkan tangannya. “Saya Natassya Anggella, saya dari jakarta”membalas salam sambil menjulurkan tangan. “Yasudah biar ibu perkenalkan ya,Ini Arum,Deby, Rahmah, Atu, Ajeng, Veni, Indah, Putri, Bunga, dan Ayu”.“Oh hay semuanya”ucapku dengan senyum ketus. “yasudah makan yuk”tawar ibu kos itu.
Saat makan aku hanya terfikir mungkin mereka semua bisa membantuku untuk mencari Randy agar aku bisa cepat-cepat kembali ke jakarta. Karna badanku telah sangat lelah aku segera menjatuhkan tubuhku ke atas kasur  dan aku segera tidur di atasnya. Saat tubuh itu masih terasa sakit dan aku pun masih sangat ngantuk dari luar terdengar suara ketukan pintu.“Ok, Bentar! Pagi pagi ko udah ganggu siapa sih!.”ucapku keluh kesal. Saat  membuka pintu seseorang telah berdiri di depan pintu.“Natasya, pagi ini mau ke  mana?”tanya seorang wanita kepadaku. “I don’t know, why?” jawabku sangat malas hingga menatapnnya tajam. “Kamu kan baru ya di bandung jalan-jalan yuk kita keliling kota bandung yuk”ucapnya mencoba menenangkanku. Aku terdiam sebentar, aku pikir dia bisa membantuku dalam masalah ini. “Ok, aku mandi dulu kamu tunggu di sini”yang langsung pergi membalikkan badan. Lagi lagi aku berfikir, Mungkin aku bisa manfaatkan dia untuk mencari randy di kota kembang ini,dan agar aku pun mempunyai teman selama tinggal di bandung.
Setelah agak lama menunggu, aku segera keluar dari kamar serta mengunci nya, dan segera menghampiri  Ayu yang sudah dari tadi menunggu ku.“ Kita mau kemana?”tanyaku bingung.“Kemana ya?..Gak tau bingung loh maunya kemana?”ajaknya bercanda. “Yu, loh tau gak tempat di mana aja yang menyediakan cupcake?” menghentikan jalan dan menatapnya. “Ya taulah. Kebetulan banget gue kerja di caffe cupcake”dengan senyuman yang dilontarkannya.“yang bener yu?lu kerja di caffe cupcake?”takpercaya,dan mulai tersenyum senyum sendiri. “loh kenapa? Loh mau nyobain cupcakenya?”menyenggolku.“Iya makasih,gimana kalau sekarang kita ke sana”paksa ku.“ok”jawabnya singkat. Sesampainya aku di depan caffe cupcake itu, dalam hati ku selalu berdoa agar aku bisa segera bertemu randy. “Gue ke belakang dulu ya”meninggalkan Ayu dan berjalan menuju kamar mandi yang di sediakan di caffe ini.
Saat sedang berjalan dalam fikir ku hanya terbayang-bayang gimana dia sekarang ini?, karna aku dari tadi hanya melamun sambil berjalan tak sengaja aku menabrak seorang wanita yang sedang berjalan dengan pacarnya dan membawa beberapa cupcake  di tangannya, cupcake yang wanita itu pegang terjatuh ke lantai dan minuman yang sedang pacarnya pegang pun tertumpah ke baju SMA yang mereka gunakan dan sedikit mengenai  kaos biru yang sedang aku gunakan.“Sorry”ucapku yang sangat merasa bersalah. “Ih.. loh tuh gak liat-liat ya, Makanya kalau jalan tuh jangan ngelamun, kan jadi kotor”ucap wanita itu dangan raut wajah yang kesal. “Iya sorry gue gak sengaja yaudah gue ganti rugi deh cupcakenya, berapa?”membuka dompet. “Yaudah lah gak apa-apa gak usah”sambung laki-laki yang sepertinya pacarnya itu dengan nada pelan. “Gak, Gak apa-apa ko biar saya ganti rugi semuanya, Mana bon yang tadi habis kalian membeli cupcake itu?”memintanya. “Ini..”ucap wanita itu yang memberikan bon nya kepadaku dengan nada pelan. “Kalian mau di ganti sama uang atau cupcake lagi?”ujarku. Mereka tak menjawab pertanyaan ku itu,mungkin mereka juga gak enak. “Ok gini saja ini uang buat kalian”memberikan uang 200 rb.“Gak usah mba, Saya gak minta anda untuk mengganti ko tadi saya hanya sepontyan kaget aja jadi  emosi.”ucap wanita itu dengan senyuman. “Gak gak apa-apa kalian terima aja ya saya jadi gak enak kalau kalian menolak”melontarkan senyuman. “tap...”terpotng karna aku langsung memberi uang itu depada tanganannya dan mengepelkannya. Aku memberi senyuman kepada mereka dan segera meninggalkannya. Mata ku tidak dapat fokus sering kali aku menengok ke kanan dan ke kiri barangkali randy ada di sini, tapi apa iya?
Tak lama ayu datang membawa beberapa cup cake dan segera menghampiriku. “Loh gak kerja?”tanyaku kepada ayu dengan nada membingungkan. “Gak, hari ini gak ada jadwal  jadi gue mau antrin loh ke mana aja ok”. Saat memdengar kalimat ayu tadi aku jadi lebih bersemangat untuk mencari randy, dan agar dia bisa membantu mungkin lbh baik aku critakan smuanya.“yu, kamu bsa bantu aku gak?”mengepal tangannya. “bantu apa? Ya selagi aku sanggup knpa enggk”membalas senyuman.  Setelah selesai menceritakan itu semua, kini hanya ayu yang mengetahui niat pertamaku yang nekad untuk pergi dan tinggal di bandung.“begitu.. insya allah tasya, aku bakalan bantu kamu sebisa aku kamu yang sabar ya”mengusap-usap bahuku. “iya” jawabku yang langsung memakan cupcake.
Di meja no 12 itu terdapat seorang lelaki yang menyerupai wanita kalau di kira seumuran dengan randy saat ini. Yang sedang memakan sebuah cup cake dengan secangkir coffe. Tapi itu bukan randy, randy gak mungkin menggunakan pakaian wanita,hells, dan tas berwarna merah jambu. Karna bingung Ayu segera membalikan badannya dan menengok kearah mataku menatap.“Oh liatin cowo itu?” tanyanya sambil memainkan lilin yang terdapat di meja. “Kenapa?apa dia langganan di sini?”. Hanya mengangkat bahu saja jawaban Ayu.
Aku segera membantingkan badanku di atas kasur, karna lelah aku langsung tertidur lelap hingga lupa membuka sepatu. Dan kini sepatu itu telah mengotori kasur yang berwarna putih ini. Alarm sudah berbunyi terus menerus tapi rasa ngantuk dan malas yang masih terasa membuatku malas beraktifitas, dan aku hanya membolak balikan badanku saja.  Kini jam telah menunjukan pukul 8.30. Aku yang baru terbangun segera siap-siap untuk mencari toko cup cake lainnya. Aku berjalan ke arah tangga dengan sangat cepat(setengah lari)  tiba-tiba seseorang dari arah belakang memanggil namaku. Saat membalikan badan ternyata Bunga yang memanggilku.“Ada apa?” tanyaku yang nampak malas dengan nada kasar. “Enggak ko gue cuman mau bilang resleting  tas loh kebuka!”ucapnya sambil melewatiku. “thanks” balasku cuek.
Tanpa banyak basa basi lagi,aku segera menuruni anak tangga satu persatu. Kini gak ada orang yang menemaniku, tapi aku gak menyerah.  Aku meminta supir  taxi  itu mengantarkanku ke beberapa toko kue di kota bandung.ketika seharian sudah lelah mencari aku melewati sebuah toko buku yang di dalamnya terdapat cafe. Aku mencari buku dan memesan sebuah makanan di sana. Ternyata cafe di dalamnya juga menyediakan cup cake.“Mba, di sini ada gak yang suka mesen cup cake?”tanyaku kepelayan yang sedang menunggu catetan pesenanku.“iya ada banyak mbak. Kenapa? Mbak mau pesen cup cke juga?”tanya pelayan yang sudah mulai mengeluarkan buku pesanan dan pulpen.“enggak, aku pesan coffe aja satu.”
Sambil menunggu aku mengambil sebuah majalah dewasa yang sampul majalah itu adalah seorang waria yang wajahnya sangat mirip dengan orang yang sedang makan cup cake di cafenya Ayu, hanya saja namanya di situ terterang  Raline dan keterangan di situ, bahwa dia seorang transgender yang juga model, model sexy lebih pantasnya.Tapi aku tidak begitu peduli dengan orang yang berda di majalah itu.Tak lama pelayan datang dengan membawa secangkir coffe panas dan menaruhnya di mejaku. “Mba, Kenal model ini?”tanyaku sambil menunjukan waria yang ada di majalah itu.“loh Raline yah, dia itu loh mba model transgender, kasian lo mba dia gak punya keluarga dan katanya usianya juga masih sangat muda, ya tapi kurang lebihnya sih saya mah gak tau ya mba”pergi meninggalkanku. Jadi dia tuh model pantas saja
Sambil tiduran di atas kasur aku membuka leptop ku dan searching tentang waria Raline model bandung itu. Dan ternyata bukan. Kini aku sudah sedikit lega karna ternyata Randy itu bukan raline, dan gak mungkin randy seperti itu. Mungkin dia sekarang menjadi idola para remaja di sekolahnya. Dan sangat tidak mungkin kalau dia seperti Raline itu. tapi kini aku menjadi tambah kesulitan untuk mencari randy.
Hari ini ku putuskan untuk tidak pergi kemana mana karna cuaca yang dari tadi malam hujan deras tak henti hentinya. Dengan menikmati teh hangat di pagi hari yang sedang hujan ini. Aku melihat beberapa penghuni  kostan ini yang sedang sibuk karna harus pergi berkuliah.
Kini hujan telah reda dan matahari pun sudah berada tepat di atas kepala, tapi itu semua tak membuatku menyerah untuk tetap berkeliling kota bandung lagi.
Kini lagi lagi aku pulang dengan tangan hampa dan tak membawa info apapun. Malam hari ini aku melihat salah satu anak kost ini keluar dengan seorang lelaki, mau kemana sudah malam gini? Pakaian yang ia gunakan juga sangat tidak biasa. Tanpa ia ketahui aku mengikutinya menggunakan ojeg. Ternyata ia mengarah ke salah satu club malam. Aku gak pernah menyangka bahwa di kota bandung yang terkenal cantik ini masyarakatnya ada yang seperti ini. Seperrti kehidupan di Jakarta. Dengan piama yang masih ku gunakan ini aku mencoba mendekati club malam itu. Tapi tidak, aku tidak akan membuang buang waktuku untuk mendekati tempat terlarang itu. Untung saja ojeg yang tadi ku naiki belum sempat pergi, jadi aku bisa kembali pulang menaikinya lagi. “Darimana aja malam malam begini?”tanya salah satu penghuni kostan ini dengan nada tinggi. Tanpaku pedulikan aku langsung meninggalkannya. “He! Gue ngomong sama lo anak baru!”ucapnya dengan nada menyolot. Mendengar ucapannya tadi aku langsung membalikan badan dan menghampirinya. “Dari warung” balas ku dengan menatapnya tajam,dan langsung meninggalkannya.
Pagi ini aku habiskan hanya berada di dalam kamar, karna kurasa tubuhku yang tidak seprti biasa. Bahkan untuk bangkit dari kasurpun rasanya sangat sulit. Tapi aku beruntung karna di setiap kamar di tempat kostan ini, di beri masing-masing satu telepon jadi aku bisa menghubungi ibu pemilik kost langsung, untuk ku minta bantuan. Kini aku berada disebuah rumah sakit, karna ibu pemilik kostan itu membawaku ke rumah sakit terdekat setelah panik melihatku dalam keadaan lemah. Obat dari rumah sakit itu banyak sekali,dan sangat mahal. Hingga aku hampir kehabisan pegangan, ini gak bisa di biarkan bagai mana aku bisa menemukan Randy kalau aku tidak punya pegangan lagi.
Hari ini seluruh tubuhku sudah membaik kurasa aku bisa kembali mencari Randy dan juga sebuah pekerjaan ringan. Saat aku melewati sebuah Masjid dengan sebuah menara di dalamnya, aku merasa sangat penasaran dan mencoba memasukinya. Dari atas sini aku bisa melihat seluruh kota bandung, dan aku pun melihat dari jarak yang sangat jauh sebuah gunung yang di kenal sebagai Tangkuban Parahu. Hingga sempat terfikirkan bahwa kota bandung ini sangat luas, bagaimana?dan gimana?aku bisa menemukan Randy itu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Setelah shalat dzuhur di masjid ini aku kembali melanjutkan pencarianku. Sepanjang perjalanan aku menyusurin alun alun kota bandung entah kenapa pikiranku sangat kosong. Kini aku berhenti sebentar untuk menyicipi kulier khas bandung itu. Saat sedang asik menyantap beberapa makanan dan minuman seseorang dengan penampilan punk menarik tas yang berada di lenganku. “Jambret.. Jambret..”teriakku yang membuat semua orang membantuku mengejar jambret itu. Sayangnya jambret itu sangat cepat hingga aku dan para pedagang kaki lima itu tidak bisa mengejarnya, tapi bagaimana seluruh uangku,ATMku, Handphone, tablet dan tanda pengenalku ada didalamnya serta foto dan petunjuk yang mengenai Randy pun berada di dalamnya.”Sialan!”ucapku menangis sambil menendang sebuah kaleng di pinggiran alun-alun kota bandung.
Kini perjalananku hanya sia-sia. Dan bahkan untuk kembali ke kostan saja aku tidak punya uang untuk ongkosnya.beberapa kali aku teriak kecewa dan kesal selagi berjalan kaki menuju kostan itu. Saat aku menyebrangi sebuah jalan raya hampir saja aku tertabrak. Aku yang saat ini sedang kesal tidak dapat melihat jalan dengan baik. Aku menangis dan terus menangis di bawah pohon besar di sebuah taman. Entah jalan manakah yang aku lalui aku tidak tau, bahkan aku pun tidak tau di mana tempatku sekarang. Langit yang semakin gelap, serta serangga yang berada di pipiku membuat ku terbangun dari tidurku. Ternyata aku tertidur dibawah pohon itu karna lelah berjalan dan menangis. Kuputuskan untuk kembali ke Masjid itu untuk berniat menginap semalam selagi aku belum mendapat pekerjaan.
 Kini langit sudah mengitam dan jam yang berada di tanganku sudah menunjukan pukul 09.05(sembilan lewat lima menit). Setelah selesai shalat isa aku mencoba tidur di salah satu teras di masjid itu hingga seorang wanita bewajah arab dengan pakaian serba hitam dan cadarnya menghampiriku dan membuatku terbangun.”kenapa tidur di sini?namaku Aisyah, aku melihatmu dari tadi sore tapi sekarang sudah larut malam kenapa masih di sini?tidak pulang?”ucap wanita itu dengan lembut kepadaku. Setelah menceritakan semua kejadian tadi siang kepadanya, ia menyuruhku untuk ikut bersamanya berniat mengajakku kerumahnya agar aku tidak tidur di teras masjid dan kebetulan sekali rumahnya tak begitu jauh dari masjid dan alun alun ini jadi aku tak perlu repot naik kendaraan. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa rumahnya sangat besar. Bahkan rumahku yang di itali pun kalah besarnya. Sangat beruntung aku bisa menginap di sini.
Saat Aisyah menyuruhku masuk aku sangat tidak PD, karna hanya aku yang tidak berkerudung. Semua keluarganya sama sepertinya menggunakan jubah hitam yang di lengkapi cadar. Sempat ada keribut di keluarga ini untuk menerimaku atau tidak. Penghalangnya adalah karna aku tidak menggunakan kerudung. Tapi Aisyah sangat baik dia memberiku kerudung berwarna hitam dan mengganti pakaianku yang tidak pantas ini dengan pakaian panjang yang lebih pantas. Kini keluarga itu mengizinkanku untuk menginap di rumah yang megah dan mewah ini.
Senja ini aku terbangun padahal jam yang berada di kamar itu menunjukan pul 03.45 aku terbangung ketika mendengar alunan alunan ayat suci Al-Quran yang selalu mereka baca setiap harinya. Aku melangka menuju luar dan berniat mencari sumber suara itu, ternyata dari belakang rumah di sebuah pendopo yang tidak begitu besar.”kamu sudah bangun tasya?”tanya ibu Aisyah yang melihatku berdiri di pinggiran tembok.Aisyah segera menghampiriku dengan membawa sebuah Al-Quran.”Kamu mau baca? Biar kita ngaji bareng bareng”ajak Aisyah yang langsung memberikan Al-Quran itu kepadaku. “Tapi Aisyah, aku gak begitu bisa baca Al-Quran. Sudah lama sekali aku tidak membacanya”ucapku yang menunduk malu. “Enggak Apa. Kita mau ko ajari kau membaca Al-Quran”sela salah satu keluarga Aisyah. Aku sangat bangga bisa ketemu Aisyah,sehingga aku bisa memperbaiki Agama ku. Dan ku harap Randy pun tidak melupakan Agamanya.
Pagi ini kuputuskan untuk pamit karena harus tetap mencari Randy walaupun barang barang berhargaku hilang kemarin. Derasnya air hujan membuatku harus berteduh di sebuah warung kopi (warkop) di pinggiran jalan. “Sulit sekali mencarimu dek”ujarku frustasi. Walaupun hujan masih membasahi tanah ini. Ku mantapkan tekadku untuk terus mencarinya. Walau air hujan telah membuat seluruh tubuhku basah kuyup, gak ada sedikitpun rasa untuk menyerah. Setelah lama berkeliling mencari Randy ku akhiri dengan bertanya ke salah seorang tukang bakso di kaki lima. Saat aku hendak meninggalkan tukang bakso itu para remaja SMA yang berdatangan sedang membicarakan salah seorang remaja yang mungkin temannya di sekolah. “Luh tau gak? Temennya si Hendra gue mah kasian sama dia.”ucapnya sambil memukul bahu temannya. “Emang kenapa bro?”balasnya selagi memakan bakso. “kasian semenjak orangtuanya cerai dia pindah keBandung, tapi lo tau?dia malah kesesat.”ungkapnya selagi memakan bakso. Aku sangat penasaran dengan ceritanya, aku kembali mendekatinya dan duduk di sebuah bangku. “kesesat gimana?” tanya temennya yang langsung menghentikan makannya lalu menatap temannya. “katanya sih dia bandel aja, tapi bandel kenapa kenapanya gue gak tau si Hendra cuman cerita segitu, dia bilang dia omongin kelanjutannya nanti malah nge-Gibah.”ujar temannya yang tetap asik memakan bakso. Mereka kembali melahap bakso yang mereka beli, dan aku kembali melanjutkan perjalananku yang kini menuju kostan.
Untung saja tidak semua uangku dan barang berhargaku ku simpan di dompet dan tas, setidaknya kini aku masih memiliki simpanan  uang. Pagi ini aku tidak pergi untuk mencari Randy, tapi aku pergi untuk mencari pekerjaan. Ku mulai mencari di dalam sebuah Mall besar. “DICARI KARYAWAN YANG MAHIR BAHASA INGGRIS” seperti sebuah kesempatan besar yang sayang jika tidak di ambil. Kupikir dalam ruangan itu hanya aku seorang yang ingin mengikuti lowonga itu tapi ternyata salah puluhan orang telah mendaftar terlebih dahulu tapi aku tidak boleh menyerah. Nasib baik berada di pihak ku saat aku di terima di tempat ini.
Setelah dua bulan aku bekerja di sini, aku berniat untuk mengunjungi kediaman aisyah, aku ingin berterima kasih kepadanya dan keluarganya.
Rumah besar itu tampak kosong sesekali ku brteriak dengan jari yang terus memencet bel rumah itu tapi tak seorangpun keluar dari rumah besar yang nampak bagai istana. “mencari siapa?” tanya seorang warga. “aisyah dan keluarganya kemana?”. “oh aisyah setau saya mereka sudah pulang ke arab sekitar dua minggu yang lalu”. “arab? Tidak meninggalkan pesan sama sekali?” tanyaku yang sangat cemas.  “ada sebuah surat yang mbak aisyah titipkan kepada pak RT katanya untuk mbak Natasya”. “benarkah? Saya natasya, bisa antarkan saya untuk menemui pak RT.”. “bisa”. Aku bergegas cepat mengikuti ibu ibu itu menju rumah pak RT. Setelah bercakap-cakap dengan pak RT ia memberikan sebuah surat yang di tulis aisyah untuk ku. Tak langsung aku buka surat yang masih tertutup rapat itu ku biarkan tetap tertutup hingga aku sampai di kostan.
“Seperti Bulan yang terlihat sempurna tetapi tidak.    Seperti pasir yang terlihat bersih tetapi tidak. Hentakan bumi membuat butiran pasir berloncan loncat hingga tersesat jauh, jauh hingga lupa diri.
Aku melihat aktor yang pandai menyembunyikan perasaan hati. Seperti mentari yang selalu tersenyum kepada bumi. Angin membuatku tersesat dalam gelombang laut, semakin lama aku berenang hanya laut luas lah yang aku temui.
Hati sungguh buta. Aku tak ingin menjadi bebanmu, aku sadar Bintang lebih kuat dari bulan walau yang terlihat sebaliknya.

 “maksudnya aisya itu apa? Kenapa dia menulis surat ini surat yang tidak dapat aku mengerti surat yang membuat ku semakin bingung”ucapku gundah dalam hati.
Minggu depan aku akan menemui mu, aku tunggu di jalan aceh no 21.sampai ketemu minggu depan Wassalam.
Aku makin tidak mengerti, hari hari ku lalui seperti 4 bulan biasanya di kota bandung mencari Randy dan bekerja di sebuah tempat les. Hingga semakin jauh aku mencari hingga sampai lah aku di jalan aceh tempat dimana aisyah ingin menemuiku. Aku mencoba mengelilingi jalan itu hingga dapatlah sebuah pemakaman di yang di temboknya terdapat tulisan “Pemakaman 21”. Aku semakin bingung apa maksud aisyah. “cepat sekali kamu datang”ucap seorang wanita dari arah belakangku yang membuat aku segera membalikan badan. “aisyah.. apa maksud kamu ngajak aku ke sini?”ujarku dengan raut wajah yang sangat bingu saat meliat dia yang menggunakan pakaian jubah hitam dan 1 kardus cupcake yang tampak sudah berjamur dan lama itu. “(menitihkan air mata) ikut aku” kearah sebuah makam yang tertulis nama Randy bin Jamil di dalam batu nisannya. “Randy?!”(menitihkan air mata)yang langsung terduduk memeluk batu nisan itu. “Aisyah, apa maksud ini? Darimana kamu tau aku,Randy? Jawab aku!” ucapku membentak. “(menitihkan air mata)maafkan aku.. maafkan aku.” Ucapnya dengan nada sangat bersalah.
Aku semakin tidak dapat mengerti apa maksud Aisyah ada hubungan apa dia dengan Randy hingga dia begitu merasa bersalah dan apakan makam ini benar makam randy, randy yang selama ini aku cari cari. Randy adik ku?  Dalam tubuh ini aku hanya dapat bertanya tanya hingga semua dapat terjawab jika saja air mata aisyah dapat berhenti dan mulai bercerita.
“cukup Aisyah ceritakan, apa maksud semua ini? Ada hubungan apa kamu sama Randy? Apakah ini benar makam Randy?”ucapku yang masih sangat tidak mengerti. “(menghapus air mata) begini ceritanya. Dulu tepat tanggal 14 februari tahun lalu aku yang sedang mengendarai sedan berwarna silver ku sedang melaju dengan kecepatam kencang. Hingga aku tidak dapat melihat keadaan lalulintas. Dari arah yang berlawanan seseorang lelaki yang sedang mengendarai sepeda motor melintas dengan handphone di dalam helmnya. Tanpa aku ketahui kejadian itu sangat lah singkat ketika aku membuka mata lumuran darah telah menodai sisi sisi mobilku aku yang sangat manik itu segera kelaur dan ku priksa keadaan di luar, dan yang aku dapati seorang anak lelaki  yang sudah berlumuran darah terlembar dari motor bebeknya dengan 1 kardus cupcake yang iya pegang dan telfon yang masih aktif memanggil nama Natasya. Aku berniat bertanggung jawab dan segera membawa jasad randy ke dalam mobil ku, dan pergi meninggalkan lokasi itu. Saat di rumah sakit aku membukan isi kardus kue yang sebenarnya di tunjukan untuk kado ulang tahun kamu. Aku takut.. aku takut kalau aku masuk penjara aku takut. Maafin aku.” Ucapnya terus membuat ku sebagai mimpi.
“gak, gak gak mungkin ini mimpi, randy masih hidup, lo bukan pembunuh. Gak gak gak ini Cuman mimpi ya ini mimpi ini MIMPI (berteriak kencang yang lalu terjatuh lemas). (memelukku). ”Maafkan aku tas, aku gak seperti yang kamu bayangkan, setelah kejadian itu, aku putuskan untuk ikut ke abi ku dan mencoba menutup aurat seperti ini, agar tidak ada orang yang dapat mengenaliku.”. “(mendorong aisyah)pembunuh,pembunuh, jangan sentuh gue,pembunuh.”pergih meninggalkan aisyah yang menangis karna rasa bersalah.
            “natasya, aku mohon jangan laporkan aku ke polisi.”memeluk kakiku. “lepasin gue, gue gak akan biarin pembunuh kaya loh berkeliaran.”menarik tangannya untuk di bawa ke kantor polisi.
Setelah menyerahkan aisyah ke kantor polisi aku, aku segera menelfon orang tua ku untuk menyusul ku ke Bandung dan membawa pulang jasad Randy. Adik tercinta yang selama ini di cari cari, hasil dari pencarian ini tak berakhir dengan indah bahkan aku harus merelakan sahabatku yang mulai kini akan menjalani hari harinya di dalam sel sel besi.
Semua penghuni kost menatapku dengan aneh kecuali ibu kost dan ayu.”yang sabar ya lo”ujar ayu selagi mengusap pundakku. Hanya senyuman kecil dan rintihan air mata yang menyentuh hati yang ku lontarkan. Kini aku tau maksud dari 21 cupcake, yang aku pikirkan tentang 21 itu ternyata salah besar. Tapi semua rahasia sedah terbongkar. Cahaya dalam kenangan bandung seakan redup bagai gerhana di hati ini. Mata yang terbuka pun seakan buta. Hingga aku tidak dapat menikmati indahnya dunia dengan cahaya.
Aku berdoa kepada yang mahakuasa, yang di saksikan langsung oleh butiran pasir yang tertiup angin dan ombak yang tertiup menuju daratan.
~ 21 Gerhana Di kota Bandung ~