9.
Sebuah Ujian Yang Menyakitkan Hati
Di jalan kita berjalan dengan santai tapi tiba-tiba sebuah truk besar
dari arah yang berlawanan melaju dengan cepat bahkan sangat cepat, motor yang di tumpangi oleh aku dan ka vadly
harus terjatuh aku dan ka vadly sempat terlempar , biola ku terjatuh dan
hancur,tak lama banyak orang yang datang dan membantu ku dan ka vadly lengan
dan kakiku penuh dengan lecet yang mengeluarkan darah, dan di keningku serta hidungku mengeluarkan darah , tapi aku masih
bisa bangun, aku yang di bantu warga datang menghampiri ka vadly saat ku buka
helmnya darah penuh menutupi wajahnya itu, dia tampak tak sadarkan diri, aku
dan ka vadly dibawa oleh warga ke rumah sakit terdekat.
Saat memasuki rumah sakit aku sempat menangis karna melihat ka vadly
yang tak sadarkan diri , orang tua ku, keluargaku, serta keluarga ka vadly pun
berdatangan,
Aku yang shock karna melihat ka Vadly yang tak sadarkan diri pun
akhirnya pingsan.
~1 jam kemudian ~
Aku mulai tersadar dari pingsan ku itu,aku langsung mengingat kejadian
tadi siang
“bu vadly mana?”~ucapku~
~ibu menangis~
“ibu kenapa?”~tanyaku~
“enggak ibu gak apa-apa ra,ra kamu bisa sembuh na, karna pendonor
tulang sumsum belakang buat kamu udah ada”~ucap ibu yang sengaja mengalihkan
pembicaraan~
“yang benar bu?”
“iya” ~menitihkan air mata~
Aku tak ingin bertanya lebih banyak lagi karna aku sangat senang
setelah tau bahwa aku bakalan sembuh dan
bisa kembali bersama ka Vadly
“ibu kira-kira kapan oprasi itu di laksanakan?”
“ya kira-kira sih senin”
Senin ini hari kamis berarti aku masih punya waktu
“bu, aku boleh minta tolong gak ambilin biola aku!”
“syira.. biola kamu udah hancur”
“hancur bu?” ~ucapku kaget~
“memangnya kenapa ra?”
“bu aku udah punya janji ke ka vadly akan memberikan rekaman aku ke dia
aku butuh banget biola itu” ~menitihkan air mata~
“ok ibu beliin ya skrng kamu tunggu di sini!”
Ibu berbuat seperti itu karna ibu tau itu adalah kesepatan terakhir
Vadly mendengar permainan biola syira, karna nanti vadly akan pergi dan
memberikan waktu hidupnya kepada syira
~keesokan harinya ~
Aku telah izin kepada rumah sakit untuk membuat sebuah rakaman dulu ,
dan aku mulai memainkan biola itu dan memainkan beberapa
lagu yang ku rekam di
hp ku , lagu yang ku rekam berjudu:
- “takkan terpisah”-rendy pangalila
- “kehilangan”-christina
Takan terpisah –rendy pangalila
saat
nanti kita tak bisasaling menyentuh, memandang wajahmu
kuatlah sayang karna mereka
berusaha menjauhkan kita
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
saat kau tak di sini
saat nanti kita tak bisa
saling menyentuh, memandang wajahmu
kuatlah sayang karna mereka
berusaha menjauhkan kita
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
saat kau tak di sini
dan sebuah lagu lagi yakni lagu christina kehilangan
Daku kini
menangis
dikau kini tlah pergi
memberi seribu duka
Lara aku kehilangan dikau
selamanya takkan melihat
hadirmu seperti dulu
aku kehilangan
Daku tulus berkata
ucap terima kasih
segala pengorbanan cinta
Lara aku kehilangan dikau
selamanya takkan melihat
hadirmu seperti dulu
aku kehilangan
dikau kini tlah pergi
memberi seribu duka
Lara aku kehilangan dikau
selamanya takkan melihat
hadirmu seperti dulu
aku kehilangan
Daku tulus berkata
ucap terima kasih
segala pengorbanan cinta
Lara aku kehilangan dikau
selamanya takkan melihat
hadirmu seperti dulu
aku kehilangan
Entah mengapa aku ingin memakai lagu itu,setelah selesai aku menitipkan
hp ku untuk di berikan kepada Vadly, aku merasa sedikt rindu kepada vadly, ok
jujur sangat rindu sih
“ibu, antarkan aku ke ruangannya Vadly, dan gak usah sama ibu yang
mengantarkan hp ku nya biar aku saja”~ujarku~
“tapi..”~ucap ibu~
“ayolah bu..”~paksaku~
Ibu udah gak bisa menolak permintaan ku aku pun di antarkan ke kamar
Vadly dengan menggunakan kursi roda yang di dorong oleh ibu, setelah aku sampai
di depan ruangan Vadly aku sangat bersemangat, tapi saat aku membuka pintu dan
melihat Vadly yang masih tertidur, dan selang serta alat deteksi denyuut nadi
sudah terpasang di tubuhnya, tak sanggup aku untuk menahan air mata yang ingin
terjatuh
Aku mengusap kening vadly yang tampak keringetan dan ku ambil tessu dan
ku bersihkan wajah vadly yang berkeringat ,
“vadly.. kamu kenapa tidur terus?, vadly bangun.. bangun.. bangu...,
vadly aku udah bawain rekaman aku vadly bangun kita harus tepatin janji
kita vadly.. vadly.. bangun mana ketawa
kamu?, mana senyuman kamu ? vadly kenapa kamu diem terus? Vadly kenapa banyak
selang di tubuh kamu? Kamu kan gak sakit vadly bangun..” ~ucapku yang tak kuat
menahan air mata~
Tak lama terdengar suara azan zuhur dan kita shalat berjamaah di dalam
ruangan vadly kita semua berdoa untuk kesembuhan vadly, tapi keluarga vadly
malah memeluk syira, karna mereka tau vadly gak akan sembuh yang akan sembuh
adalah syira,
Tanpa sadar syira berdoa kepada allah dengan suara yang sangat besar
dan air mata yang mengalir di pipinya
“ya allah, sembuhkanlah orang yang hamba sayang, sembuhkanlah orang
yang selalu memberi hamba motivasi,semangat untuk hidup, ya allah berikanlah
dia kesehatan, kembalikanlah dia seperti semula, biarkan aku yang sakit tapi
jangan Vadly, dia adalah orangg yang selama ini hamba harapkan, dia adalah
orang yang paling hebat yang pernah hamba kenal, kembalikanlah kekuatannya ya
allah, izinkan lah hamba memeluknya dan berbicara dengannya lagi ya allah”
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menangis, dan juga vadly
aku melihat dia menitihkan air matanya,
>>>lanjutannya di 10.bisakah selamanya bersama?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar